tottenham-vs-leicester

Tottenham Menuai Hasil Imbang Kontra Leicester

Pekan ke-10 Liga Inggris beberapa hari lalu baru saja usai. Semua klub sudah bertanding, posisi lima besar pada klasemen sementara masih cukup ketat dalam perolehan poinnya. Man City kokoh di puncak klasemen, namun ada satu laga yang cukup seru untuk menjadi perhatian, Tottenham Hotspur terpaksa harus bermain imbang 1-1 kontra Leicester. Dengan demikian klub yang dilatih oleh Mauricio Pochettino harus turun peringkat dari posisi 4 menjadi 5 klasemen sementara Liga Inggris.

Tottenham yang memiliki julukan Spurs, bermain di kandang sendiri yakni di White Hart Lane. Disaksikan penuh oleh para pendukungnya sendiri, membuat anak klub yang bermarkas di London itu mampu memberikan perlawanan sengit terhadap juara bertahan Primer League. Bahkan jalannya babak pertama hampir sepunuhnya pertandingan dikuasai oleh Spurs.

Bermain cukup agresif, Vincent Janssen beberapa kali mendapatkan peluan emas di dalam kotak pinalti. Pertahanan yang menumpuk seperti kendaraan bus parkir di dalam titik dua belas pas Leicester, benar-benar membuat para gelandang dan penyerang tuan rumah mendapatkan kesulitan.

Penguasaan bola di depan kota pinalti, melalui operan-operan pendek terukur dan cepat, membuat anak asuh Ranieri itu praktis hanya bisa bertahan sembari memperhatikan pergerakan bola.

Berita Bola Gol Pinalti Untuk Spurs

leicester

Menurut sumber resmi berita bola semenjak pluit babak pertama dibunyikan, pasukan Spurs sudah melakukan serangan secara agresif. Hingga pada menit ke-44 terjadi sebuah kemelut di dalam kotak pinalti dan terpaksa pemain bertahan dari tim tamu harus menjatuhkan penyerang Tottenham. Wasit menunjukkan titip putih untuk tuan rumah.

Tendangan pinalti yang diambil oleh Vincent Janssen berhasil menembus gawang yang dijaga oleh penjaga gawang hebat yaitu Kasper Schmeichel. Penjaga gawang yang masih berumur 29 tahun itu sebenarnya sudah bisa menebak ara tendangan, namun sepakan yang kencang tidak mampu di tepisnya dan skor 1-0 untuk tuan rumah pun berubah sampai babak pertama usai.

Kekuatan anak asuh Mauricio Pochettino sebenarya cukup mampu menggilas tim Leicester City pada malam itu. Tim yang berasal dari London itu mampu secara penuh menguasai jalannya pertandingan. Vardy CS hanya bisa bertahan dan hanya melakukan serangan-serangan balik sesekali saja. Pendukung tuan rumah pun semakin percaya diri melihat permainan klub kesayangannya itu melakukan serangan demi serangan.

Petaka untuk tuan rumah datang pada menit ke-48. Ketika terlalu asik menyerang, kali ini serangan balik yang berawal dari Riyad Mahrez benar-benar memberikan kejutan kepada pendukung tim tuan rumah.

Gol Ahmed Musa yang meneruskan operan dari Mahrez dan berhasil di konversi menjadi sebuah gol penyeimbang. Kedudukan 1-1 terus bertahan hingga laga berakhir, walaupun Spurs menguasai jalannya laga tersebut.

Komentar Mauricio Pochettino

mauricio-pochettino

Hasil kurang memuaskan yang di dapat oleh Tonttenham Hotspur membuat para pendukung dan pemain sedikit kecewa. Pasalnya, tim asal London itu harus rela turun satu peringkat ke posisi 5 pada klasemen Liga Inggris. Kegagalan meraih poin penuh dalam laga tersebut membuat pelatih mereka Mauricio Pochettino memberikan beberapa komentar yang sifatnya positif terhadap jalannya pertandingan.

“Tidak seharusnya kecewa, tim ini telah bermain dengan sangat luar biasa. Mereka tampil mengurung lawannya dengan rasa ingin menang yang cukup kuat. Kemampuan dan keinginan yang besar agar bisa mendapatkan tiga poin sudah kita perlihatkan disini kepada para suporter, jadi tidak perlu ada yang harus dikecewakan apalagi harus mencari kesalahan,” Jelas Mauricio Pochettino seusai laga berakhir.

Jalannya laga memang milik Spurs, beberapa pemain telah berusaha keras dalam memebrikan terbaik kepada klubnya tersebut. Mauricio juga mengatakan bahwa sepakbola tidak hanya butuh permainan bagus saja, melainkan juga butuh sebuah keajaiban untuk bisa menang dalam setiap pertandingan.

claudio-ranieri

Nasib Menyedihkan Leicester Di Klasemen Liga Inggris

Juara bertahan Liga Inggris musim lalu Leicester City benar-benar menyedihkan. Pasukan Claudio Ranieri itu kini sedang dalam kondisi terpuruk. Terlempar jauh dari urutan lima besar di klasemen Primer Inggris dan saat ini klub yang sempat membuat dunia tercengang itu hanya mampu berada di posisi ke-13 dengan raihan poin 8.

Sangat berbanding terbalik jika melihat prestasinya pada musim lalu. Pada saat itu, klub berjuluk The Foxes itu tidak bisa berbuat banyak di musim kali ini. Kepercayaan diri yang telah rontok karena terlena dengan menjadi juara Liga Inggri pada musim kemarin. Kemampuannya seakan telah menghilang pada musim ini dan terdampar di papan tengah klasemen sementara.

Kepala pelatih mereka, Ranieri akan semakin pusing setelah tim besutannya itu lagi-lagi harus menelan kekalahan menyakitkan atas Chelsea. Melawan pasukan the blues ternyata Vardy dan kawan-kawan tidak mampu berbuat apa-apa. Mereka harus mengakui anak asuh Conte dengan skor tiga gol tanpa balas. Buruknya komuniskasi antar lini di lapangan menjadi biang keladi kekalahan mereka itu.

“Kami harus bisa melupakan setiap kekalahan. Musim ini memang sangat menyakitkan bagi kami, seharusnya sebagai juara bertahan tim bisa memberikan kepercayaan diri yang kuat tapi ini semua terbalik,” Jelas Ranieri dengan raut muka penuh kekecewaan saat di tanya media mengenai jebloknya prestasi mereka.

Ranieri Mulai Lupakan Juara Bertahan

ranieri

Pelatih yang sempat menjadi fenomenal karena pada musim pertamanya ia langsung membawa Leicester City menjadi juara Liga Inggris itu kini perlahan melupakan juara bertahan yang lekatkan kepada timnya itu.

“Saya sangat sedih dengan performa tim ini, mereka tidak mampu memberikan banyak cara dalam menciptakan gol seperti musim lalu. Kini kami semua harus bisa membuang juara bertahan karena itu menjadi bumerang bagi tim ini sendiri,” ungkap Ranieri.

Keadaan yang sangat tidak bagus bagi sebuah klub juara bertahan dengan menempati posisi pada papan tengah klasemen sementara. Hanya bisa memenangkan satu kali pertandingan saat melawan Burnley dan seterusnya tidak pernah lagi mendapatkan tiga poin merupakan prestasi yang sangat tidak bagus.

Pola Permainan

leicester-city

Banyak pengamat yang memberikan masukan kepada Ranieri untuk merubah gaya permainan anak asuhnya itu. The Foxes dinilai bermain terlalu berani keluar menyerang dan sering kali membuat lubang dan celah pada lini tengah  hingga belakang mereka.

Dalam setiap laganya Leicester kerap kali selalu berusaha tampil lepas dan terkesan apa adanya. Mereka melakukan serangan dengan cukup baik namun tidak adanya pemain jangka di lapangan tengah menjadi jarak antara pemain bertahan dan tengah sangat jauh. Hal terseut sering sekali terlihat di setiap laganya.

Liga Inggris sangat mengandalkan kecepatan dan kekuatan fisik. Pemain dari Leicester sendiri terlalu bebas menyerang tanpa strategi menahan bola demi menguasai berbagai sektor pada lapangan. “Ia (Leicester) sebernarnya adalah tim bagus, Ranieri sangat mengerti akan arti sepakbola menyerang tapi sepertinya ia lupa akan penguasaan lapangan pada setiap pertandingan,” ujar salah satu komentator bola di Inggris.