jurgen-klopp

Posisi Liverpool Di Klasemen Usai Imbang Melawan MU

Jurgen Klopp adalah salah satu pemain di luar lapangan yang harus bertanggung jawab atas gagal membawa timnya meraih angka penuh pada laga melawan Manchester United. Berlaga di Anfield sepertinya membuat kubu tuan rumah tampil sedikit gugup pada babak pertama, hal ini terlihat betapa mudahnya MU mampu mengobrak-abrik pertahanan Liverpool yang di komandoi oleh Joel Matip.

Akibat dari kegagalannya dalam meraih tiga angka di hadapan publiknya sendiri, membuat the reds (julukan Liverpool) tertahan di posisi empat pada klasemen sementara Liga Inggris. Pekan ke-8 ini menjadi rangkaian pertandingan yang telah mencoret statistik mereka di kompetisi paling bergengsi di dunia itu.

Melihat hasil akhir dari pekan ke-8 ini sebenarnya statistik Liverpool tidaklah buruk, tim besutan Jurgen Klopp itu hanya mengalami satu kali kekalahan saat melawan Burnley pada pekan ke-2. Sisanya the reds bermain dengan kemenangan dan imbang termasuk saat melawan MU di pekan ke-8.

Bertengger di posisi ke-4 dengan raihan poin 17 dari 8 kali laga yang sudah dijalankan merupakan suatu hasil yang terbilang bagus. Semenjak di tangani pelatih Jurgen Klopp, para pemain Liverpool menunjukkan perkembangan yang cukup drastis. Mereka mampu menciptakan gol cukup banyak pada setiap pertandingannya.

“Tim ini selalu berusaha untuk selalu tampil maksimal dan penuh semangat. Bermain lepas dan memainkan strategi sesuai yang kami bicarakan di ruang ganti merupakan cara kami melakukan jalannya pertandingan,” Jelas Jurgen Klopp. Kekuatan pasukan the reds ini memang terlihat pada segi semangatnya dan selalu menampilkan gaya permainan terbuka dengan serangan cepat melalui kedua sayapnya.

Berita Bola Posisi Masih Bisa Berubah

liverpool

Peringkat Liverpool di empat besar pada Klasemen berita bola adalah hasil dari permainan bagus mereka sepanjang musim ini berjalan. Coutinho dan rekan-rekannya membutuhkan kemenangan dari setiap laga karena jadwal pertandingan masih sangat panjang dan bisa saja posisi mereka terlempar dari perebutan piala Liga Inggris. Poin maksimal dari setiap laga yang dimainkan sudah mereka dapatkan, sekarang hanya menjaga kesetabilan performa setiap individu para pemainnya.

“Perjalanan masih sangat panjang, kita tidak boleh merasa puas diri karena itu bisa menjadi bumerang bagi kami,” jelas Klopp kepada media. Meskipun memiliki statistik bagus tapi ternyata pelatih yang akrab dengan topinya itu tetap mewaspadai titik balik dari performa anak-anak asuhnya tersebut.

“Kekuatan tim kami bukanlah dari financial, tapi melainkan dari sebuah perjuangan yang selalu kami masukan kedalam setiap pertandingan,” menurut Klopp. Timnya memang bukan di besarkan oleh kucuran dana besar, Liverpool terlahir dari sebuah sejarah yang cukup panjang oleh karena itulah pendukung dari klub tersebut cukup banyak dan sangat fanatik. Berbeda dengan beberapa klub kaya launnya yang saat ini banyak bertebaran di Inggris.

Lini Depan Harus Produktif

liverpool-vs-mu

Liverpool menyatakan akan membeli beberapa pemain pada pembukaan transfer nanti. Pelatih mereka Jurgen Klopp menginginkan pemain bernaluri untuk mencetak gol. Sangat dirasa, dirinya kurang begitu puas dengan para performa pemain penyerangnya.

“Saya rasa setiap tim hebat ingin memiliki komposisi pemain yang mampu memberikan sentuhan-sentuhan agar gol bisa tercipta. Saat ini, tim yang saya latih sangat memerlukan sosok pemain bernaluri tinggi dalam menetak gol,” tegasnya.

Kekuatan pasukan Klopp itu sebenarnya mampu mencapai puncak performanya jika saja dapat bermain lebih disiplin dalam menjalani laga. Kekuatan yang ada sekarang masih diarasa belum memberikan rasa puas dari sang pelatih tersebut.

claudio-ranieri

Nasib Menyedihkan Leicester Di Klasemen Liga Inggris

Juara bertahan Liga Inggris musim lalu Leicester City benar-benar menyedihkan. Pasukan Claudio Ranieri itu kini sedang dalam kondisi terpuruk. Terlempar jauh dari urutan lima besar di klasemen Primer Inggris dan saat ini klub yang sempat membuat dunia tercengang itu hanya mampu berada di posisi ke-13 dengan raihan poin 8.

Sangat berbanding terbalik jika melihat prestasinya pada musim lalu. Pada saat itu, klub berjuluk The Foxes itu tidak bisa berbuat banyak di musim kali ini. Kepercayaan diri yang telah rontok karena terlena dengan menjadi juara Liga Inggri pada musim kemarin. Kemampuannya seakan telah menghilang pada musim ini dan terdampar di papan tengah klasemen sementara.

Kepala pelatih mereka, Ranieri akan semakin pusing setelah tim besutannya itu lagi-lagi harus menelan kekalahan menyakitkan atas Chelsea. Melawan pasukan the blues ternyata Vardy dan kawan-kawan tidak mampu berbuat apa-apa. Mereka harus mengakui anak asuh Conte dengan skor tiga gol tanpa balas. Buruknya komuniskasi antar lini di lapangan menjadi biang keladi kekalahan mereka itu.

“Kami harus bisa melupakan setiap kekalahan. Musim ini memang sangat menyakitkan bagi kami, seharusnya sebagai juara bertahan tim bisa memberikan kepercayaan diri yang kuat tapi ini semua terbalik,” Jelas Ranieri dengan raut muka penuh kekecewaan saat di tanya media mengenai jebloknya prestasi mereka.

Ranieri Mulai Lupakan Juara Bertahan

ranieri

Pelatih yang sempat menjadi fenomenal karena pada musim pertamanya ia langsung membawa Leicester City menjadi juara Liga Inggris itu kini perlahan melupakan juara bertahan yang lekatkan kepada timnya itu.

“Saya sangat sedih dengan performa tim ini, mereka tidak mampu memberikan banyak cara dalam menciptakan gol seperti musim lalu. Kini kami semua harus bisa membuang juara bertahan karena itu menjadi bumerang bagi tim ini sendiri,” ungkap Ranieri.

Keadaan yang sangat tidak bagus bagi sebuah klub juara bertahan dengan menempati posisi pada papan tengah klasemen sementara. Hanya bisa memenangkan satu kali pertandingan saat melawan Burnley dan seterusnya tidak pernah lagi mendapatkan tiga poin merupakan prestasi yang sangat tidak bagus.

Pola Permainan

leicester-city

Banyak pengamat yang memberikan masukan kepada Ranieri untuk merubah gaya permainan anak asuhnya itu. The Foxes dinilai bermain terlalu berani keluar menyerang dan sering kali membuat lubang dan celah pada lini tengah  hingga belakang mereka.

Dalam setiap laganya Leicester kerap kali selalu berusaha tampil lepas dan terkesan apa adanya. Mereka melakukan serangan dengan cukup baik namun tidak adanya pemain jangka di lapangan tengah menjadi jarak antara pemain bertahan dan tengah sangat jauh. Hal terseut sering sekali terlihat di setiap laganya.

Liga Inggris sangat mengandalkan kecepatan dan kekuatan fisik. Pemain dari Leicester sendiri terlalu bebas menyerang tanpa strategi menahan bola demi menguasai berbagai sektor pada lapangan. “Ia (Leicester) sebernarnya adalah tim bagus, Ranieri sangat mengerti akan arti sepakbola menyerang tapi sepertinya ia lupa akan penguasaan lapangan pada setiap pertandingan,” ujar salah satu komentator bola di Inggris.